“MERAMAL” TEATER INDONESIA

Jangan tertipu! Saya bukanlah peramal jitu. Tidak juga berniat menambah iklan peramal di televisi. Saya hanya mengajak Anda berandai-andai menjadi peramal. Kita meramal arah teater Indonesia.

Sebelum melihat masa depan, kita terawang dulu masa lalu. Membuka, membaca, atau sambil mengenang masa pertumbuhan awal teater Indonesia. Siapa tahu ketemu tanda-tanda masa depan teater Indonesia.

Empu teater ada enam orang. Teguh Karya, WS. Rendra, N. Riantiarno, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, dan Suyatna Anirun. Dari kelompok yang mereka dirikan, kelak lahir tokoh teater penerus . Siapa saja mereka? Itu juga akan kita ramal.

Tiga dari empu itu punya pendidikan formal teater.Teguh Karya dan N. Riantiarno alumni ATNI, Akademi Teater Nasional Indonesia. Yang pertama dosen dan yang kedua mahasiswa. Saat itu, ATNI mempengaruhi seniman-seniman daerah hijrah ke Jakarta. N. Riantiarno salah satunya. Beliau nekat ke Ibukota demi kuliah di ATNI. Teguh Karya kelak mendirikan teater Populer, N. Riantiarno mendirikan teater Koma.

Putu Wijaya yang kelak mendirikan teater Mandiri, juga mengecap pendidikan formal teater. Selain kuliah hukum di UGM, ia menempuh pendidikan di ASDRAFI, Akademi Seni Drama dan Film Yogyakarta.

Tiga empu lain, WS. Rendra, Arifin C. Noer, dan Suyatna Anirun, pendidikannya bukanlah teater. Mereka teaterawan otodidak. Ilmu didapatkan dari kelompok teater yang mereka dirikan. WS. Rendra mendirikan Bengkel, Arifin C. Noer membesarkan teater Kecil, dan Suyatna Anirun memekarkan Studiklub Teater Bandung (STB). Perlu dicatat bahwa Putu dan Arifin pernah berguru pada Rendra.

Separuh dari enam teaterawan ini otodidak.

Melihat persentase ini, apakah sampai sekarang para teaterawan otodidak dan formal punya ‘bunyi’ yang seimbang?

Belakangan ini, kalau boleh mengambil contoh, calon potensial justru tidak berpendidikan formal teater. Gaung teater Garasi sudah terdengar di Amerika dan Eropa. Mayoritas anggotanya bukanlah alumnus jurusan Teater. Teater Satu Lampung dan kelompok teater di daerah pun demikian.

Melihat umur dan jumlah kampus kesenian, terutama yang membuka jurusan teater, mestinya sudah lahir tokoh jagad teater Indonesia. Berapakah tokoh dari STSI Bandung, STSI Solo, STSI Padang, dan di Jakarta ada IKJ? Bukankah teori dan bentuk teater Indonesia mestinya lahir dari rahim ini? Di kampus inilah ‘kitab suci’ teater Indonesia berada? Dalam terawangan saya bolak-balik yang muncul aktor Iman Soleh.

Maraknya kelompok teater di kampus non kesenian, teater lingkungan, pengajarnya didominasi trah otodidak. Sudah waktunya kaum bergelar turun gunung ke masyarakat. Mau tidak mau, teaterawan otodidak butuh akademisi yang betul-betul mengerti dunia teater. Sebagai cerdik pandai berdiri menjadi proklamator teater Indonesia ke luar negeri lewat buku-buku, kajian ilmiah, dan pagelaran tentu saja.

Mencermati belum ‘bergizi’ dan bersinerginya kaum akademisi dan otodidak, saya sudah meramal arah perkembangan teater di Indonesia. Mudah-mudahan terawangan kita tidak sama. Amin!

Gading Serpong, 10 September 2009


%d bloggers like this: