Sebelum Tirai Merah Menggulung

Gong kedua baru ditabuh. Para pemeran bersiap diri di sisi panggung. Lima menit lagi gong ketiga berbunyi. Tirai merah akan terbuka menandai saatnya muncul di hadapan penonton. Saat-saat ini selalu menggetarkan hati para aktor pemula. Tak hanya pemula, aktor hebat juga mengalami hal yang sama. “Kalau tidak ada ‘degdegan’ berarti ada yang salah dengan diri kita”, ujar sebagian aktor. “Perasaan takut itu justru energi yang teramat besar yang harus dimanfaatkan. Keadaan takut menandakan kita menaruh perhatian penuh kepada pertunjukan.”

Demikian, telah berpuluh gong kesatu, kedua, dan ketiga telah berlalu dari kehidupan aktor-aktor hebat. Pertunjukan demi pertunjukan menempa mereka menjadi hebat. Hingga suatu saat, tiba waktunya mereka menjadi guru, tempat digugu, tempat ditiru, dan tempat bertanya segala sesuatu tentang keaktoran. Bertanya tentang seluk-beluk misteri panggung, manfaat pencahayaan, kenapa belakang panggung lebih tinggi dibanding bagian depan, dan banyak lagi. Termasuk juga apa gunanya tata rias dan kostum. Pertanyaan yang mungkin membosankan adalah: “Apa gunanya pemanasan?”

Aktor-aktor ‘matang’ yang sabar akan menjawab dengan jelas pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu. Mungkin juga menuliskannya di dalam buku atau koran harian ibukota. Aktor muda yang rajin akan mendapat bocoran ilmu tersebut. Namun bagi yang malas, mereka harus puas dengan apa yang didapatnya di lingkungan berlatih. Beruntung kalau lingkungannya berlatih memiliki guru yang betul-betul aktor matang.

Melihat perkembangan keaktoran sekarang ini, kita perlu menduga bahwa masih kurang banyak aktor-aktor ‘matang’ yang sabar, dan tekun menurunkan ilmunya ke lingkungan sekitar. Mau bukti?

Tidak perlu melihat festival teater yang menampilkan pertujukan penuh teriakan-teriakan dan muka berkerut. Tonton saja siaran televisi! Setiap hari sinetron menampilkan akting yang membuat kita harus mengurut dada. ‘Trenyuh.’

Jelas ini bukan salah mereka yang hanya bermodal tampang. Stok aktor bagus tidak sanggup mengimbangi pesatnya perkembangan industri sinetron dan layar lebar. Aktor-aktris nekat ini kesulitan mendapatkan pelatihan yang benar. Kalau pun ada, pelatih aktingnya mengajarkan kemampuan mengencangkan muka dan memelototkan mata. Hasilnya? Sinetron penuh dengan muka kencang dan mata melotot.

Teguh Karya, Suyatna Anirun, Arifin C. Noer, yang teranyar WS. Rendra, mungkin sudah tiada. Tidak adakah penerus yang mewarisi keahlian maestro ini? Teater Indonesia masih memiliki Putu Wijaya dan N. Riantiarno. Mungkin beliau-beliau ini terlalu repot dengan kelompoknya teater Mandiri dan teater Koma. Tapi kalau bukan kepada beliau berdua dan pewaris ilmu teater dari empat maestro yang lain, kemana lagi mencari ilmu keaktoran yang benar?

Taman Ismail Marzuki sudah puluhan tahun berdiri. Tidak bisakah kita mengurangi penampilan aktor memberat-beratkan suara hanya untuk menunjukkan peran yang bijaksana? Akting yang betul-betul palsu.

Gong tiga sudah ditabuh dan tirai merah terbuka. Para pemain masuk panggung satu demi satu. Di bawah sorotan lampu, dibungkus kostum dan tata rias, mereka memainkan peran masing-masing. Tak ada tepuk tangan, tak ada air mata sepanjang pementasan karena penonton memang tidak ada. Sampai tirai merah akan tertutup, penonton tetap tidak ada.

Sebelum tirai merah tertutup, dalam hati mereka berharap, aktor-aktor hebat akan turun gunung. Mengajari mereka cara berdiri dan berlaku di atas panggung. Memberitahu bentuk akting yang wajar dan meyakinkan. Mereka menunggu, masih menunggu sebelum tirai merah menggulung.

Kampung Utan, 21 September 2009


%d bloggers like this: