Teater, Rame-rame Kere

“Berteater berarti siap miskin.” Itu mungkin kalimat yang pertama kali kita dengar ketika akan ikrar masuk kelompok teater di Indonesia. Atau ketika kita berbincang-bincang dengan pekerja kantoran, kalimat itu juga yang akan terucap. Ya, memang begitu. Kehidupan aktor panggung di Indonesia bukanlah pilihan bagi sebagian orang. Terutama orangtua yang menginginkan anaknya menjadi pekerja berpenghasilan tetap.

Kelompok teater profesional di Indonesia, teater Koma misalnya, hanya berproduksi setahun sekali. Maksimal tiga kali kalau dipaksakan. Latihan satu judul naskah membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 6 bulan. Bisa dihitung sendiri pengeluaran yang dibutuhkan untuk latihan, konsumsi, dan transportasi. Belum lagi ketika hari H. Sewa gedung, tata cahaya, tata suara, semuanya memerlukan biaya besar. Masih syukur kalau ada sisa untuk dibagikan sebagai ‘uang permen’ kepada pendukung pementasan. Saya sebut uang permen karena sama sekali tidak menutupi pengeluaran pribadi sepanjang proses latihan. Guyonan pun muncul dari kondisi miris ini. Berteater seperti latihan menjadi kere.

Mahasiswa yang sudah ‘terjebak’ masuk jurusan teater mencari cara untuk lepas dari kutuk kere aktor teater. Mereka mencoba peruntungan di dunia layar lebar dan layar kaca. Begitu punya peruntungan sekali, kuliah teater pun ditinggalkan. Bekal ilmu yang tanggung dipakai sampai tua.

Akhirnya, dunia pertunjukan Indonesia dipenuhi aktor-aktor berilmu tanggung. Uniknya, di lokasi shooting kadang-kadang mereka akan bertemu dengan dosen atau bahkan dekan bekas kampusnya. Dekan, dosen, dan mahasiswa sama-sama berusaha lepas dari kutukan kere. Lalu timbul pertanyaan, siapa yang tinggal di kampus?

Meski stigma bahwa berteater berarti siap miskin, peminat yang masuk kelompok teater tidaklah berkurang. Setiap tahun tetap ada yang memilih jurusan teater atau mendaftar menjadi anggota teater profesional.

Khusus teater profesional, belakangan ini didominasi peminat perempuan. Fenomena ini juga terjadi pada kelompok-kelompok teater sekolah dan kampus. Padahal selama ini porsi peran perempuan terbatas jumlahnya dalam naskah-naskah teater di Indonesia. Penulis naskah harus menyesuaikan diri dengan kondisi ini.

Upaya untuk membuat aktor bisa hidup dari teater perlu didukung sepenuhnya. Dengan begitu daya cipta kreatif tidak lagi semata-mata demi perut, tetapi untuk kehidupan itu sendiri. Namun jangan juga teater itu menjadi ladang jual beli. Kesenian, utamanya teater harus tetap menjadi sarana untuk berterimakasih kepada alam. Teater menjadi alat kontrol sosial sekaligus hiburan yang mendidik.

Transformasi dari pelaku-pelaku teater juga diperlukan demi merubah stigma yang selama ini melekat. Ke depannya, pelaku-pelaku teater bukan lagi mahasiswa-mahasiswa drop out atau masyarakat yang tidak punya pekerjaan. Penggiat teater perlu belajar pada bidang kesenian lain, musik misalnya. Bidang kesenian ini sudah memiliki penggiat yang bergelar doktor. Untuk bidang teter memang sudah ada yang bergelar master tapi pada akhirnya memilih untuk membuka kelas akting yang muridnya artis dan calon artis. Ya, memang pada akhirnya perlu dimaklumi bahwa hal itu dilakukan untuk lepas dari kutukan kere perteateran.

Teater harus memperbaiki dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa membantu selain dirinya sendiri. Dukungan dari pemerintah sudah kita tahu porsinya. Kondisi perkembangan teater memang membutuhkan daya juang lebih. Namun ini akan membentuk pelaku-pelaku di dalamnya menjadi mandiri. Kita bisa berkaca pada Butet Kertaradjasa. Meski sibuk dengan usahanya lepas dari kutukan kere teater, beliau tetap terlibat dalam pentas teater Gandrik yang sudah membesarkan namanya. Butet tetap berteater meski laris sebagai pengamen di televisi dan film.

Kutukan kere itu ternyata bisa dihilangkan. Tinggal usaha dari pelaku teater itu sendiri. Apalagi upaya itu dilakukan bersama-sama. Masing-masing kelompok teater saling mendukung usaha perkembangan anak-anak teaternya. Atau kampus-kampus kesenian menuntun mahasiswanya untuk menyelesaikan pendidikannya. Sehingga tercipta aktor-aktor yang bisa mempertanggungjawabkan ilmunya. Sehingga suatu saat acara televisi tidak lagi hanya dihibur oleh kelompok musik, menyanyi, dan sulap. Tapi juga oleh monolog dan pementasan pendek yang bermutu. Siapa tahu? Meski tidak gampang, namun hal itu mungkin. Dan itulah cikal bakal ladang pekerjaan para aktor panggung teater.

Saatnya pelaku teater melepaskan kutukan hidup kere. Dan upaya itu dimulai dari sekarang. Ya, sekarang!

BSD, 28 September 2009


%d bloggers like this: