TEATER BUKAN JALAN PINTAS

Selama sepuluh tahun, Budi Ros, berkutat dalam hiruk pikuk perteateran. Beliau tinggal di sanggar Teater Koma, berproses sebagai ‘anak wayang’ teater modern.

Ia berperan macam-macam di atas panggung maupun di luar panggung. Menjual tiket, mengepel sanggar, membuat properti, dan lain sebagainya. Selama itu pula, ia hanya memainkan peran-peran yang biasa saja.

Peran sebagai Semar dalam lakon Semar Gugat menabalkan dirinya sebagai aktor yang layak diperhitungan. Lima tahun kemudian, dia mendapatkan kesempatan menjadi sutradara di Teater Koma. Mementaskan naskahnya sendiri pula. Naskah berjudul Festival Topeng itu sebelumnya mendapat penghargaan lomba naskah Dewan kesenian Jakarta.

Lima belas tahun belajar teater baru jadi sutradara. Lama sekali? Ya. Memang sangat lama.

Akhirnya Budi Ros dikenal publik. Namun lewat jalan pelik. Tidak dengan jalan pintas yang lurus. Mendapatkan popularitas yang berkualitas sungguh tidak gampang. Prosesnya panjang. Tinggal di sanggar, mengerjakan kegiatan pra hinga paska produksi. Semua itu dia lakukan dalam proses menjadi aktor betulan.

Tidak main-main memang. Setiap hari adalah belajar. Teater itu tidak mengenal kata berhenti belajar. Setiap tahapan produksi adalah ajang belajar. Meski berulang-ulang melakukan, tetap saja butuh belajar. Setiap produksi pasti punya karakteristik dan rumus tersendiri. Jadi tidak bisa seperti kunci Inggris yang dapat digunakan untuk membuka berbagai ukuran baut. Boleh dibilang, produksi baru adalah pelajaran baru.

Belajar. Kata itu pula yang menjadi kata kunci untuk menjawab, kenapa sesudah tenar sebagai aktor panggung, masih juga hidup bersahaja? “Teater itu tempat belajar, bukan tempat cari uang”, kata sebagian orang. Lalu, kalau ada segelintir orang yang kemudian meninggalkan sejenak kehidupan anak wayang, demi lepas dari kebersahajaan, tindakannya bisa dimaklumi?

Mungkin timbul iri hati kepada orang yang baru belajar teater di bawah lima tahun, dapat kesempatan jadi presenter, lalu hanya dalam setahun, dia sudah bisa membeli rumah untuk orangtuanya. Atau kita malah marah, sebal, kesal, mengumpat, karena dia meninggalkan proses berteater?

Semua memang akan kembali kepada hati nurani. Kondisi ekonomi kadang mampu membelokkan suara hati nurani. Tapi, apakah mampu membeli rumah untuk orangtua menistakan suara hati? Kalau saya yang ditanya, jawaban saya adalah, “Saya tidak akan marah dan memaklumi apa yang dia lakukan. ” Kenapa?

Bayangkan, berapa banyak aktor-aktris panggung yang mengabdi di dunia panggung lebih dari sepuluh tahun? Bahkan sampai empat puluh tahun. Tapi coba kita amati. Berapa banyak dari mereka masih harus naik turun angkutan kota ke tempat latihan? Berapa banyak yang masih pusing dengan uang kontrakan rumah petak, biaya sekolah anak, dan uang jajan cucu? Sementara seseorang yang masuk ke dunia televisi, meski ilmu panggungnya cuma seujung kuku, tidak pusing lagi akan tempat berteduh dan jaminan hidup ke depan. Atau, itukah ketidakberpihakan nasib?

Mungkin. Tapi mungkin juga tidak. Mungkin orang panggung yang kudu berusaha ekstra lagi. Kasihan memang. Sudah capek, harus lebih capek lagi. Tapi kalau tidak mau? Kalau tidak mau maka selamanya akan terpuruk dan berputar-putar di lingkaran kebersahajaan.

Saya pribadi menyarankan untuk berjuang terus. Sudah kepalang tanggung. Sudah kepalang capek. Paksakan saja. Dan jangan mau dan merasa terlambat mencoba keberuntungan di layar kaca. Karena mungkin saja, suatu saat nanti, dengan sedikit keberuntungan, kita tak lagi menyesali hidup di dunia panggung. Kita tidak akan lagi memaki-maki diri dan sekeliling kita yang mempengaruhi hingga menjadi fanatik berteater. Kalau tidak sekarang memulai, kapan lagi? Ayo, mumpung masih ada waktu.

Saatnya berusaha mencapai kenikmatan latihan di teater tanpa dipusingkan, besok makan apa, atau uang transport besok ngutang dari mana. Atau, besok angkutan kota mogok tidak ya? Karena kalau mogok, tidak ada alternatif kendaraan ke tempat latihan.

Berteater memang bukan jalan pintas. Hampir lima jam setiap hari latihan dihabiskan di sanggar. Besok paginya harus memeras keringat mencari uang. Kalau orang lain bisa tidur enak, aktor panggung masih latihan. Bisa dipastikan prestasi di tempat kerja akan pas-pasan. Wajar. Manusia tidak bisa melawan aturan alam. Manusia punya batas daya tahan. Dan ini kembali menegaskan, teater memang sungguh-sungguh bukan jalan pintas!

Berteater butuh tenaga ekstra. Tapi kalau ada kesempatan mendapat uang, kenapa tidak kita coba. Dan kalau tidak ada tawaran datang, mengapa tidak kita datangi saja calon-calon peluang itu? Ya, lagi-lagi bukan jalan pintas. Harus tebal muka bersaing dengan orang yang belum pernah apa-apa di dunia panggung. Memang bukan jalan pintas kan? Pilih bersahaja atau menahan malu?

Gading Serpong, 4 Januari 2009


%d bloggers like this: