JALAN SETAPAK DI DUNIA TEATER

Oleh: Paulus Simangunsong

Segelintir praktisi teater sukses jadi selebritis di dunia hiburan tanah air. Sebutlah Ratna Riantiarno yang bermain di film yang disutradarai Riri Riza berjudul Petualangan Sherina dan Opera Jakarta arahan sutradara kondang Sjuman Djaya. Dia juga laris berperan sebagai ibu dalam berbagai judul sinetron.

Jajang Pamontjak (setelah menikah dengan Arifin C. Noer menjadi Jajang C. Noer) juga tak kalah populer. Dari dunia teater dia berkibar di jagad hiburan, baik layar perak maupun layar kaca. Bermain film antara lain Bibir Mer, Arisan, Eliana-Eliana, dan Laskar Pelangi.

Ada pula Butet Kartaredjasa yang populer lewat kepiawaiannya menirukan suara mantan presiden Suharto. Beliau sangat laris di film dan talkshow-talkshow yang mengkritisi perkembangan sosial dan politik mutakhir di Indonesia. Sebelumnya ada Didi Petet yang melejit namanya lewat film Catatan si Boy.

Tidak ketinggalan pula aktor panggung jebolan Festival Teater Remaja Jakarta periode 1970-an, Deddy Mizwar. Beliau melambung namanya ketika memerankan Jendral Nagabonar dalam film Nagabonar. Di kemudian hari Deddy Mizwar juga menjadi sutradara. Film yang dia arahkan antara lain, Nagabonar Jadi Dua, Alangkah Lucunya Negeri Ini. Juga sinetron Lorong Waktu, Sang Pengembara, dan Kiamat Sudah Dekat.

Kelima tokoh di atas, Ratna Riantiarno, Jajang C. Noer, Butet Kartaredjasa, Didi Petet, dan Deddy Mizwar berkutat dulu di dunia teater yang konon tidak punya masa depan. Itu sebabnya zaman-zaman itu, atau bahkan sampai sekarang, dunia teater merupakan momok menakutkan bagi masyarakat. Sedikit sekali orangtua yang membiarkan anaknya berkecimpung di dunia teater. Stigma buruk begitu melekat sehingga sempat keluar perkataan “pantas saja seniman itu berantakan, urakan, cakar-cakaran, karena Taman Ismail Marzuki itu bekas kebun binatang.

Sangat sulit memilih jalan hidup sebagai pekerja teater. Atau kalau pun punya keinginan, akan ada tentangan dari orangtua apalagi calon mertua. Jalan menjadi populer sangat sempit, bahkan boleh dibilang hanya berupa jalan setapak, yang dikiri-kanannya menjulur alang-alang dan tunas-tunasnya siap menusuk. Ranting-ranting kering pepoponan berjatuhan pun intai menumbuk.

Lalu, ketika orang-orang masuk ke dunia teater karena keinginan murni, ini sungguh patut dihargai dengan memberikan mereka prioritas untuk melintas menggunakan jalan setapak. Bukannya justru membuka jalan setapak baru yang di ujungnya buntu, namun menyuruh mereka mengambil jalur itu. Sementara jalur setapak yang umum dipakai para teaterawan dikooptasi untuk kepentingan kerabat entah itu suami, istri, keponakan, sepupu, atau bahkan anak.

Keadaan ekonomi memang susah. Maka itu banyak orang tidak memilih teater sebagai profesi, apalagi teater memang belum layak disebut sebagai lahan profesi. “Teater itu adalah jalan hidup”, kata sebagian orang. Nah! Jadi kalau ada petualang yang gagal bersaing di sektor formal, ‘ujug-ujug’ berkecimpung di dunia teater karena punya hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh teater, siap-siap saja menjadi catatan kelam teater modern Indonesia. Bukan hanya si petualang tadi, tapi juga tokoh yang memberikan jalur khusus di jalan setapak itu.

Ketika slogan-slogan “teater bukan tempat cari makan” muncul dari para pekerja teater, mustinya bisa dijaga bersama-sama. Artinya, prioritas untuk menggunakan jalan setapak di dunia teater itu diprioritaskan kepada talenta-talenta berbakat yang malang melintang di panggung teater, entah sebagai pemain, penulis, tim produksi, atau sutradara. Ini kudu, kalau teater ingin difungsikan sebagai alat kontrol sosial! Bagaimana mau menjadi alat kontrol sosial, kalau di internal teater sendiri belum berkeadilan sosial?

Ada kecenderungan, belakangan ini pekerja-pekerja teater mengkaderisasi penggantinya bukan dari anggota komunitas yang bersama-sama memajukan kelompoknya, tapi justru dari keluarga dekatnya. Mungkin mereka terinspirasi Rhoma Irama yang mendongkrak Ridho Irama. Saya tidak perlu tuliskan namanya karena kita bisa lacak bersama-sama. Itu bisa pula kita tilik akarnya sejak tahun 1970-an atau bahkan jauh sebelumnya, ketika masih berjayanya Srimulat tahun-tahun awal, Riboet Orion, Stamboel, dan Dewi Dja.

Mantan presiden Suharto, di ujung pemerintahannya, mengangkat Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) sebagai menteri. Tak pelak ini menjadi peluru tajam. Padahal Tutut tidak bodoh. Buktinya dia bisa bertahan di dunia bisnis hingga sekarang.

Rakyat melihat ada ketidakwajaran ketika seorang presiden mengangkat puterinya menjadi menteri. Bisa ditebak akan banyak kepentingan bermain dalam kondisi seperti ini. Nah, kalau para pekerja teater meniru apa yang dilakukan Suharto, maka yang akan terjadi ke depan juga mungkin akan mirip seperti yang dialaminya. Jatuh!

Kampung Utan, 17 Juni 2010


%d bloggers like this: