BUKAN CARI MAKAN DARI SANDIWARA

(Sandiwara Penggemar Maya)
Oleh: Paulus Simangunsong

Ketika penjajahan Jepang, Usmar Ismail, kakaknya Dr. Abu Hanifah (El Hakim), Rosihan Anwar, mendirikan kelompok Sandiwara Penggemar Maya. Saat itu beliau karyawan bagian Sandiwara Pusat Kebudayaan Jepang. Tadinya nama kelompok ini adalah Sandiwara “Amateur” Maya. Karena segala hal yang berbau Belanda tidak boleh, maka kata itu diganti menjadi Penggemar. Maksud dari Amateur adalah anggota grup tidak cari makan dari sandiwara.

Pada jaman penjajahan Belanda, hanya sekitar 5% rakyat Indonesia yang bisa baca-tulis. Keturunan bangsawan dan anak orang berada-lah yang bisa mencapai pendidikan tinggi. Kelak, selulus dari Padang, Usmar Ismail sekolah setingkat SMA ke Yogyakarta. Bisa diduga betapa ekonomi bukanlah masalah baginya, apalagi kakaknya adalah seorang dokter.

Ketika Jepang masuk, seluruh kegiatan kesenian diarahkan untuk propaganda. Bila tidak mau kompromi, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada seniman tersebut. Sang seniman akan kesulitan berpentas bahkan hingga di penjara.

Seluruh studio film pun ditutup Jepang. Kegiatan sandiwara yang sempat mati karena seluruh pendukungnya eksodus ke film, subur kembali. Sepanjang sejarahnya, para anggota kelompok sandiwara menggantungkan hidup dari kegiatan panggung. Ini terjadi karena di luar film dan sandiwara mereka tidak bisa, akibat tidak punya latar belakang pendidikan memadai. Banyak dari antara mereka tidak tahu baca tulis. Mereka berpentas berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, memboyong keluarganya. Setiap anggota paguyuban hidup dan menuruti kehendak pimpinan kelompok.

Usmar Ismail dan Sanggar Penggemar Maya-nya, mencoba memberi pemahaman baru bagi masyarakat bahwa sandiwara bisa dimasuki kaum cerdik-cendikia, dan tidak harus menjadi sumber penghasilan. Tokoh-tokoh yang bergabung di Sanggar Penggemar Maya adalah orang berpendidikan dan mampu secara ekonomi. Diantaranya, HB. Jassin dan Cornel Simanjuntak. Tidak heran, proses berkesenian seperti ini bisa mereka lakukan.

Jadi, kalau ada seseorang mengungkapan, “bukan cari makan dari sandiwara”, kita perlu lihat siapa dan bagaimana dia.

Gading Serpong, 20 Agustus 2010


%d bloggers like this: